CARA MENGATASI PENYAKIT BULAI PADA JAGUNG

Ancaman Penyakit Bulai

Dengan besarnya lahan dan produksi jagung yang dimiliki Indonesia, petani juga harus siap dengan ancaman yang ada, salah satunya adalah penyakit bulai.

Penyakit ini merupakan penyakit umum yang ditemukan pada jagung. Ia disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis.

Penyebaran jamur ini sangat cepat dan luas jika dibantu oleh angina, yakni dapat menyebar hingga radius 5 - 10 km. Sementara jika tidak dibantu angina, penyebarannya tetap dapat mencapai radius 10 - 15 meter.

Oleh karena itu, sifatnya sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar, bahkan hingga 100%.

Kerusakan terbesar pada tanaman jagung akibat penyakit bulai dapat ditemukan pada tahun 1973 - 1975, di mana produksi jagung di Lampung mengalami penurunan dari 114.975 ton menjadi 18.977 ton.

Dalam rentang waktu yang sama, penyakit bulai juga menyerang 2.418 ha lahan jagung di Jawa Tengah dan lebih dari 2000 ha di Jawa Timur.


Cara Mengendalikan Penyakit Bulai Pada Jagung

Oleh karena itu, petani harus tahu bagaimana cara mengendalikan penyakit bulai jagung agar tidak mengalami kerugian besar.

 

Berikut langkah-langkahnya:

1.    Memastikan usia tanaman di waktu yang tepat

Jamur peronosclerospora maydis biasanya mengalami perkembangan pesat pada musim peralihan, yaitu peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya. Jamur ini juga rentan menyerang tanaman jagung di usia 0 - 5 minggu. Oleh karena itu, petani harus bisa memastikan bahwa tanaman jagungnya telah melewati usia 0 - 5 minggu pada saat musim peralihan. Hal ini diperlukan untuk mencegah atau memperkecil serangan Peronosclerospora maydis.

 

2.    Melakukan pergiliran tanaman

Untuk mencegah perkembangan Peronosclerospora maydis yang cepat, sebaiknya petani melakukan pergiliran tanaman. Setelah panen jagung, lahan sebaiknya ditanami tanaman yang bukan inang Peronosclerospora maydis (bukan jagung, gandung, padi, atau sorgum lainnya), misal cabai, dan sebagainya.

Pergiliran tanaman ini akan membuat Peronosclerospora maydis tidak memiliki media untuk berkembang.

 

3.    Perlakukan benih dengan fungisida

Karena Peronosclerospora maydis merupakan jenis jamur, maka petani dapat mengatasinya dengan menggunakan fungisida.

Namun, fungisida yang digunakan untuk mengatasi penyakit bulai jagung di sini adalah fungisida berbahan aktif belerang atau tembaga. Jenis fungisida ini diperlukan agar konidia yang terbawa oleh benih tidak tumbuh.

 

4.    Melakukan pengamatan rutin

Untuk setiap tanaman, pastinya kita harus selalu melakukan pengamatan. Mengingat penyakit bulai jagung sangat berbahaya bagi tanaman, pengamatan rutin memang sangat diperlukan.

Hal ini dilakukan agar petani dapat segera tahu jika terdapat indikasi penyakit bulai pada tanaman jagungnya, sehingga dapat diatasi sedini mungkin.

Jika terdapat tanaman yang mulai menunjukkan gejala penyakit bulai, sebaiknya ia dicabut atau dibakar agar penyakitnya tidak menular pada tanaman jagung yang sehat.

Gejala serangan Peronosclerospora maydis pada jagung biasanya berbeda-beda, tergantung usia tanaman jagung tersebut. Jika jagung diserang penyakit bulai pada usia 0 - 3 minggu, gejala yang ditunjukkan biasanya berupa daun yang menguning dan kaku. Jika diserang pada usia 3 - 5 minggu, daun jagung yang baru membuka biasanya ikut menguning, pertumbuhan tanaman melambat, tongkolnya hanya terdiri dari sedikit biji, dan terkadang tongkolnya berbentuk tidak normal.

Sementara jika tanaman diserang pada usia di atas 5 minggu, gejala yang ditunjukkan berupa daun yang membengkok (klorosis). Pada usia ini, penyakit bulai dapat menurunkan panen hingga 30%.


Komentar